(Source: leilockheart)
(Source: leilockheart)
Saya bukan Guru. Anda bukan Murid.
Saya hanya pembeber fakta.
Perunut jaring laba-laba.
Pengamat simpul-simpul dari untaian benang perak yang tak terputus.
Hanya ada satu paradigma disini.
KEUTUHAN.
Bergerak untuk SATU tujuan.
Suatu ketika saya terlibat percakapan ringan dengan adik saya dan topik kami kali ini adalah APEL.
Saya selalu menganggap kalo apel merah sama apel hijau itu sama, karena mereka sama-sama apel. Adik saya marah, karena saya keukeuh dengan pemikiran kalau apel merah dan apel hijau itu sama. Dia berkali-kali menasehati saya untuk membuang pemikiran itu jauh-jauh.
Beberapa bulan sesudah diskusi ini, saya mengikuti sebuah acara dimana topik yang dibahas pun tentang APEL. Seorang sesepuh, yang saya yakin ahli dalam bidang ini, memberikan bukti-bukti nyata tentang perbedaan apel merah dan apel hijau. Dengan tegas dia berkata, “Lihat! Dari warna saja sudah berbeda. Aromanya pun berbeda. Dan coba gigit apel ini.. Mereka punya rasa yang berbeda. Sangat berbeda. Kita terlalu sering tutup mata, makanya gak sadar sama perbedaan ini.”
Ya! akhirnya mata saya terbuka. Ini berbeda. Jelas-jelas sangat berbeda.
Saya percaya karena sudah mencicipi keduanya. Dulu saya terlalu berkonsentrasi sama apel merah, sampai-sampai gak sadar kalau apel hijau punya rasa yang berbeda dengan apel merah.
Memang dasar manusia. Kalau di alkitab, Thomas adalah orang yang percaya sesudah melihat. Kalau saya, merasakan dulu baru percaya.
(Source: codeplay, via inspiring-pictures)
(Source: anastasiacaprice, via fuckyeahreading)
Dear Neptunus
Aku mencintainya
Di depannya aku menjadi diriku sendiri
Seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku
Dia pun begitu
Membuatku hanyut oleh sorot matanya
Membuatku lupa oleh kesedihan rasanya sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya
Bahkan untuk sekedar bilang rindu atau butuh
Banyak yang nggak ngerti lalu terluka dan saling menyalahkan
Karena itu aku takut berbicara tentang hati
Maka kutuliskan saja lalu kusimpan dan ku kirimkan ke..
entah kemana
Kugy
Found on - LINK
Alkisah ada sebatang pohon yang sangat rimbun. Pada salah satu rantingnya, ada selembar daun yang melekat kuat.
Daun ini sangat menyukai sang ranting sehingga saat angin kencang datang, ia tetap bertahan walaupun ranting tempatnya melekat tidak melakukan apa-apa.
Daun itu terlihat rapuh, pucat, namun tetap bertahan, sekali lagi walaupun sang ranting tidak berusaha mempertahankan eksistensi daun malang tersebut.
Suatu hari angin sepoi-sepoi berhembus dan menggerakkan dedaunan. Lalu daun itu, satu daun yang menempel pada ranting itu perlahan jatuh ke tanah.
Mengapa ia terjatuh?
Apakah karena hembusan angin?
Ataukah sang ranting yang akhirnya menjadi alasan bagi sang daun untuk melepaskan diri?
terinspirasi dari cerita seorang teman, diolah dengan penggabungan imajinasi tentang alam
bayi berkumis :3
(via inspiring-pictures)